Pentingnya Tes Urine Bagi Siswa Baru

6

Menjadi narasumber penyuluhan bahaya Narkoba dalam kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) bagi murid baru di SMK Kesehatan Dewantara Husada Sei Rampah, Rabu (20/7/2016).

Narkoba adalah musuh bangsa nomor satu. Tidak berlebihan kiranya jika pemerintah menetapkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam kondisi Darurat Narkoba. Hal ini tak terlepas dari fakta bahwa setiap hari 30-50 orang Indonesia meninggal akibat penyalahgunaan Narkoba baik secara langsung maupun tidak langsung.

Prevalensi penyalah guna Narkoba di Indonesia saat ini telah mencapai 2,18% atau setara dengan 5 juta jiwa dari total penduduk. Parahnya, penyalah guna Narkoba tersebut justru didominasi oleh usia produktif yakni 10-59 tahun.  Jika dilihat dari latar belakangnya, persentase penyalah guna paling banyak adalah para pekerja yakni mencapai 50% disusul pengangguran 23% dan pelajar/mahasiswa 27%.

Meskipun bukan persentase yang terbesar, namun kita wajib memberi perhatian lebih kepada para pelajar. Hal ini berkaitan dengan posisi mereka yang pada masa mendatang akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan nasional. Jika kita gagal mencegah sekarang maka bukan tidak mungkin hal ini akan menimbulkan lost generation di masa yang akan datang.

Pencegahan menjadi kata kunci dalam upaya memerangi penyalahgunaan Narkoba di lingkungan pendidikan terutama kalangan pelajar. Sekolah idealnya sudah melakukan pencegahan dini yakni saat proses penerimaan siswa baru. Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan tes urine terhadap semua siswa yang dinyatakan lulus dalam proses seleksi.

Tes urine menjadi instrumen untuk melihat kondisi peserta didik baru apakah terbebas dari penyalahgunaan Narkoba atau tidak. Jika hasilnya menunjukkan 100% peserta didik baru bersih dari penyalahgunaan Narkoba maka langkah pihak sekolah jadi lebih ringan.

Namun itu bukan berarti masalah telah selesai. Hasil tes urine tidak berlaku untuk sekali seumur hidup. Artinya, tes urine di awal tidak akan menjamin para siswa selamanya akan terbebas dari penyalahgunaan Narkoba.

Pemantauan terhadap peserta didik tetap harus dilakukan. Solusinya adalah dengan melakukan tes urine secara berkala. Metodenya bisa dilakukan tes kepada semua pelajar atau dilakukan secara acak maupun pemilihan sampel.

Selain itu, upaya pencegahan juga bisa dilakukan dengan kegiatan-kegiatan sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) secara rutin. Kegiatan ekskul maupun pelajaran muatan lokal juga sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sarana pencegahan dengan melibatkan guru bimbingan konseling.

Rehabilitasi

Sebaliknya, jika dalam tes urine ditemukan ada peserta didik yang positif menyalahgunakan Narkoba, maka pihak sekolah perlu membuat suatu kebijakan. Diharapkan kebijakan yang diambil tidak mengakibatkan si pelajar kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan yang berujung pemecatan atau pemberhentian.

Pemberhentian bukan solusi karena pelajar yang menjadi pecandu masih memiliki kesempatan berubah ke arah yang lebih baik. Mereka telah menjalani masa kininya yang suram, jangan sampai juga kehilangan masa depan.

Idealnya, pihak sekolah duduk bersama dengan orang tua murid untuk mencari solusi. Perlu diingat bahwa para penyalah guna yang dinyatakan positif tersebut adalah korban. Selayaknya mereka direhabilitasi baik secara medis maupun sosial, bukan malah dihukum.

Penjara atau pengucilan apalagi dianggap sebagai aib justru membuat si anak akan semakin terpuruk.  Fakta menunjukkan bahwa 50% peredaran Narkoba terjadi dan dikendalikan dari dalam jeruji besai. Selama ini bui justru menjadi surga bagi para bandar, kurir maupun pecandu.

Pihak sekolah dan orang tua bisa berkonsultasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten/Kota yang ada di wilayahnya untuk mencari jalan terbaik. Biasanya akan dilakukan asesmen terlebih dahulu terhadap peserta didik yang dinyatakan positif menyalahgunakan Narkoba.

Asesmen ini diperlukan untuk mengetahui tingkat adiksi yang telah menimpa yang bersangkutan. Jika si pelajar masih dalam tahap coba pakai maka tindakan rawat jalan baik ke rumah sakit yang ditunjuk maupun Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) bisa menjadi solusi terbaik.

Namun apabila si pelajar saat proses asesmen dikategorikan pecandu teratur pakai maupun pecandu berat maka perlu dilakukan rehabilitasi rawat inap. Tak perlu khawatir, pendidikan si anak jika direhabilitasi rawat inap tidak akan terabaikan.

Balai rehabilitasi biasanya akan mengambil kebijakan yang tetap mebuat para residen (penyalah guna) tidak berhenti total sekolah. Jika fasilitas belum dimiliki oleh balai rehab maka si residen bisa disekolahkan dulu di sekolah terdekat. Dengan demikian, siswa yang bersangkutan tetap bisa menjalani proses rehabilitasi sekaligus tak putus sekolah.

Citra Sekolah

Selain faktor masa depan si anak, tes urine bagi peserta didik baru juga diperlukan karena akan mempengaruhi citra sekolah. Pihak sekolah tentunya tidak ingin mendapat label buruk dari masyarakat hanya karena ditemukan banyak siswa pecandu Narkoba di sana.

Para orang tua pasti enggan menyekolahkan anaknya di sekolah yang banyak siswanya menjadi penyalah guna Narkoba. Hal ini sangat wajar karena tak ada orang tua yang ingin anaknya terpengaruh hal-hal yang negatif saat bersekolah.

Di sisi lain, sekolah yang diketahui memiliki upaya kuat menciptakan lingkungan bebas penyalahgunaan Narkoba tentu akan memiliki nilai lebih. Karena itu, idealnya sekolah-sekolah tak hanya berorientasi pada prestasi siswa tetapi juga menjamin para siswanya terbebas dari penyalahgunaan Narkoba.

 

Advertisements