Ammar Zoni dan Lingkungan Rentan Narkoba

Harian Analisa Medan Edisi Kamis 27 Juli 2017

Tak ada yang menyangka artis rupa­wan yang sedang naik daun, Ammar Zoni, di­tangkap polisi karena ter­sang­kut ma­sa­lah nar­koba. Sangat disa­yangkan ka­rena pesohor sekaligus pesilat ini sebelumnya dikenal cukup aktif kam­pa­nye mengajak gene­rasi muda untuk menjauhi narkoba.

Faktanya, pemeran Boy dalam sine­tron Anak Jalanan ini ter­tang­kap tangan saat mengonsumsi ganja di rumahnya, Depok, bersama adik dan kedua asisten­nya pada 7 Juli lalu. Di dalam kamarnya ditemukan satu toples berisi narkoba jenis ganja seberat 39,1 gram. Kuat dugaan ia telah aktif mengkon­sumsi narkoba baik ganja maupun sabu sejak satu tahun ter­akhir.

Penyidik kepolisian menjerat pesine­tron kelahiran 8 Juni 1993 ini dengan pasal 111 ayat 1 dan pasal 132 ayat 1 UU No­mor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. An­caman pidananya adalah 12 tahun pen­jara. Hal ini sangat disayangkan karena oto­matis akan mematikan karier kekasih Ranty Maria ini yang sedang berada di puncak popularitas jika terbukti bersalah.

Seperti sudah menjadi sebuah tradisi, penangkapan artis karena narkoba selalu bikin heboh. Pertanyaan yang sering meng­emuka adalah mengapa banyak artis yang terjerat nar­koba? Sebenarnya sama saja, tak ada bedanya antara masyarakat umum dengan public figure seperti artis, sama-sama rentan.

Narkoba telah merasuk ke semua ka­langan dan elemen mulai dari kota besar hingga pelosok desa, kelas masyarakat berpen­didikan tinggi hingga terendah, profesi formal maupun infor­mal. Narkoba tak pandang bulu, siapa saja yang men­cobanya bisa terjerat adiksi ter­utama yang terus-menerus menyalah­gu­nakannya.

Artis hanyalah salah satu profesi dari se­kian banyak peker­jaan yang dekat dan ra­wan bersinggungan dengan penyalah­gu­naan narkoba. Kasusnya terasa lebih bom­bastis dibandingkan dengan awam lan­taran predikat melekat sebagai peso­hor yang memiliki nilai berita cukup tinggi di media.

Bahkan terkadang selebriti yang sudah tak terlalu populer pun mendadak tenar lagi karena ada kasus narkoba yang baru. Begitu pula ada beberapa pesohor yang selalu menjadi lang­ganan pemberitaan karena pernah menyalahgunakan narko­ba. Pada akhirnya mereka hanya bisa pas­rah karena faktanya me­m­ang pernah salah langkah.

Tekanan Pekerjaan

Ada beberapa faktor penyebab me­ngapa banyak selebriti terjerat dan ber­urusan dengan narkoba. Pertama, tekanan pe­ker­­jaan. Harus diakui, jam kerja para artis berbeda dengan jenis pekerjaan lain pada umumnya. Para pesohor terutama yang bekerja dalam proyek kejar tayang harus bekerja ekstra bah­kan lembur se­cara terus-menerus.

Di sisi lain penggemar tak pernah tahu dengan rasa letih mereka. Para artis ini tetap dituntut tampil prima dimanapun dan kapanpun di depan publik. Sebagian di antaranya lantas ter­giur dengan iming-iming bahwa narkoba bisa membuat sta­mina tetap bugar.

Padahal stamina prima itu hanyalah ilu­si. Kenyataan yang ada di depan mata, efek adiksi mulai menggerogoti tubuh si pe­sohor. Jika tak segera ditangani maka yang bersangkutan bisa menjadi pencan­du berat.

Kedua, pergaulan. Sebagian besar se­lebriti sadar maupun tidak sebenarnya berada pada pergaulan yang berisiko tinggi. Mereka berteman dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan kerap ber­kunjung ke tempat hiburan untuk keperluan kerja ataupun sekadar melepas penat.

Pesohor yang tak bisa menjaga per­gaulan dalam mengejar karier kerap ter­goda. Umumnya hal ini dialami artis pen­datang baru yang mengalami gegar bu­daya (culture shock). Mereka tidak siap dengan culture yang bisa bertolak be­lakang dibanding saat belum menjadi artis. Pergaulan mereka bisa jadi berubah total ketika menjadi terkenal.

Ketiga, materi yang lebih dari cukup. Profesi sebagai artis memang menjanji­kan rupiah yang berlimpah sehingga banyak yang terobsesi terjun menggeluti­nya. Hidup mewah dengan materi yang me­limpah terkadang membuat seseorang jadi lupa diri. Bagi orang yang labil tak ha­nya ketiadaan materi yang bikin bi­ngung, materi berlebih pun bisa me­mu­sing­kan.

Hal ini sekaligus menjadi daya tarik para bandar untuk mendekati mereka. Secara ekonomis, konsumen dari kala­ngan artis jauh lebih menggiurkan. Tidak mengherankan, bermun­culan jaringan pe­ngedar yang khusus menjaring konsu­men dari selebriti.

Keempat, putus asa dan frustrasi. Umumnya hal ini dialami para public fi­gure yang tak lagi mendapat banyak job. Banyak di antaranya yang tidak siap dengan keadaan seperti itu. Dulu mung­kin  artis tersebut dielu-elukan maupun di­kejar-kejar para fans kemanapun dia per­gi, namun sekarang tak ada lagi yang pe­duli. Akibatnya si pesohor terkena post po­wer syndromeyang berujung pada hal-hal destruktif.

Beberapa di antaranya kemudian men­jadikan narkoba seba­gai pelarian. Awal­nya hanya coba-coba fly sejenak untuk me­lu­pa­­kan segala persoalan hidup. La­ma-kelamaan hal itu men­jadi rutinitas dan kebutuhan yang tak bisa lagi dihin­dar­kan. Kar­ier tetap redup, masalah terus me­numpuk dan hidup telah diper­­budak nar­koba.

Menjerumuskan

Keempat faktor tersebut tak selalu berdiri sendiri. Terkadang saling bersing­gu­ngan dan beririsan membentuk sebuah ling­karan. Lingkaran tersebut ibaratnya merupakan suatu lingkaran setan yang menjadi momok menakutkan dan siap menjerumus­kan kaum selebritis yang bermental rapuh.

Meski faktornya bermacam-macam, hasil akhirnya sama yakni berujung pada kehancuran baik karier, keluarga maupun masa depan. Jika dulu mereka merasakan bagaimana panasnya atmosfer dikerubuti para fans, sekarang mereka dibekap di­ngin­­nya udara di balik jeruji akibat per­gu­mulan dengan narkoba.

Tak semuanya memang hancur dan meng­hilang. Beberapa di antaranya justru ber­tobat, bangkit dan kembali berhasil me­niti puncak popularitas. Slank adalah con­toh kecil sebagian musisi yang bisa bang­kit dari keterpurukan karena pe­ngaruh narkoba.

Bimbim dan Kaka sebagai motor penggerak Slank pernah merasakan band yang mereka besarkan hancur berantakan karena narkoba. Tiga rekan mereka yakni Bongky, Indra dan Pay pun akhirnya memilih keluar dan membentuk band BIP karena tak sanggup lagi bekerja sama de­ngan Bimbim dan Kaka yang telah kec­anduan. Saat itu Slank pun terancam bub­ar.

Untungnya Bunda Iffet, ibu Bimbim yang kemudian ber­inisia­tif mengambil alih kursi manajer Slank. Perlahan namun pasti ia berhasil menuntun kembali kedua orang tersebut ke jalan yang benar. Setelah beberapa kali menjalani rehabilitasi akhir­nya Bimbim dan Kaka pulih dan kembali aktif bermusik.

Dengan perjuangan dan disiplin yang keras formasi baru Slank perlahan-lahan kembali menjelma menjadi band yang diper­hitung­kan di tanah air. Bahkan kini band rock tersebut ter­libat aktif dalam kam­panye pencegahan penyalahgunaan dan rehabilitasi bagi pecandu narkotika. Mar­kas besar mereka di Gang Potlot di ka­wasan Duren Tiga, Jakarta Selatan ke­rap didatangi fans yang kecanduan untuk sekadar meminta saran agar bisa pulih.

Dunia keartisan memang menawarkan gaya hidup yang glamor. Namun di balik ge­merlapnya dunia tersebut tersimpan ber­­bagai jebakan negatif termasuk nar­koba. Siapa pun yang terjun ke dalamnya ha­rus bisa menjaga diri sehingga tidak ter­gelin­cir di kemudian hari. Telah banyak contoh buruk bermun­culan yang seharus­nya bisa menjadi pelajaran berharga bagi para artis tersebut.

Ammar Zoni hanyalah satu di antara sekian banyak pesohor yang hidup dalam ling­kungan rawan penyalahgunaan dan per­e­daran gelap narkoba. Jalan satu-sa­tunya adalah mem­bentengi diri dari pe­ngaruh buruk narkoba. Bijaklah dalam per­­gau­lan karena tidak semua yang enak-enak itu baik.

Keluarga dan orang-orang terdekat me­miliki pengaruh signi­fikan dalam menghindarkan seseorang dari pengaruh nar­koba. Mendekatlah kepada keluarga, bu­kan kepada narkoba, jika ingin meraih ke­suksesan dalam hidup.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |


Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Medan, Kamis 27 Juli 2017

Versi web bisa dicek di www.analisadaily.com

Download versi e-paper di sini

Narkoba Ancaman Bonus Demografi

Harian Analisa, Sabtu 29 April 2017

Indonesia sedang memasuki era dimana jumlah dan proporsi penduduk usia produktif yang kian meningkat. Puncak lonjakannya diprediksi akan terjadi pada tahun 2020 hingga tahun 2030 mendatang.

Fenomena unik ini sering disebut dengan istilah bonus demografi. Badan Kependu­dukan & Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mendefinisikan bonus demografi seba­gai keuntungan yang dinikmati suatu negara akibat besarnya proporsi penduduk produktif  yakni rentang usia 15-64 tahun dalam evolusi kependudukan yang dialami oleh negara tersebut.

Saat bonus demografi mendatang tiba, jum­lah usia ang­katan kerja produktif di In­donesia akan mencapai 70% dari total po­pulasi. Adapun 30% sisanya adalah penduduk berusia tidak produktif  yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 64 tahun.

Menurut buku Proyeksi Penduduk Indo­nesia 2010-2035 yang diterbitkan Ke­men­terian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS) dan United Nations Popula­tion Fund (UNFPA) pada tahun 2013, jumlah pen­duduk Indonesia akan bertambah menjadi 271,1 juta jiwa pada 2020. Jika persentase bonus demografi dihitung ber­dasarkan angka proyeksi maka jumlah penduduk usia produktif tiga tahun yang akan datang diperkirakan mencapai 189,7 juta jiwa.

Meskipun BKKBN mendefenisikan fe­nomena kependu­dukan itu sebagai sebuah keuntungan namun hal itu juga bisa menim­bulkan kerugian bahkan bencana. Di satu sisi, bonus demografi memberi keuntu­ngan karena melimpahnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif. Namun di sisi lain, bencana siap mengintai apabila ang­katan kerja yang melimpah itu tidak berkualitas baik.

Penduduk usia produktif yang tidak berada dalam per­forma terbaiknya tentu akan tersisih. Ketidaksiapan baik secara fisik dan mental akan membuat angkatan kerja ke­sulitan bersaing. Ujung-ujungnya akan mun­cul permasalahan serius yaitu terjadinya pengangguran besar-besaran yang mem­bebani negara.

Faktor narkoba

Narkoba adalah salah satu faktor yang mem­buat performa usia produktif menjadi tidak prima. Seseorang yang kecan­duan narkoba akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan tak lagi berpikir soal masa depan. Efek adiksi memaksa dirinya hanya berkutat dalam memuaskan dahaga me­ngonsumsi narkoba.

Saat ini narkoba memang menjadi salah satu tantangan terbesar bagi negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Nar­kotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Puslitkes Uni­versitas Indonesia (UI) Tahun 2015 tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di In­donesia, diketahui bahwa angka prevalensi penyalah­guna Narkoba di Indonesia telah mencapai 2,20% atau sekitar 4.098.029 orang dari total populasi penduduk (berusia 10-59 tahun). Sebanyak 35-50 orang meninggal sia-sia setiap hari akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba baik secara langsung maupun tidak.

Menurut survei tersebut, persentase penyalahguna berdasarkan latar belakang pekerjaan masing-masing adalah 50,34% pekerja, 27,32% pelajar dan mahasiswa, serta 22,34% pengangguran. Data tersebut tentu menjadi warning bagi bangsa kita agar lebih serius dalam menangani persoalan penyalah­gunaan dan peredaran gelap narkoba. Narkoba kini menjadi musuh bangsa nomor satu karena telah merasuk ke semua elemen masyarakat.

Di dalam lingkungan pendidikan, marak­nya penyalah­gunaan narkoba akan meng­hasilkan generasi muda yang diperbudak adiksi. Pelajar yang telah kecanduan narkoba tak bisa lagi belajar secara maksimal. Biasa­nya terjadi pe­nurunan prestasi yang signifikan disertai dengan per­ubahan sikap dan prilaku mengarah pada hal-hal negatif.

Ancaman terbesar penyalahgunaan nar­koba terhadap kalangan pelajar dan maha­siswa secara massif adalah terja­dinya feno­mena lost generation atau generasi yang hi­lang di masa yang akan datang. Padahal gene­rasi muda yang ada saat ini seharusnya menjadi tulang punggung yang mem­berikan kontribusi penting pada era bonus demografi nanti.

Adapun dalam dunia kerja, pecandu ibarat duri dalam da­ging. Jika angka penyalah­gunaan narkoba dalam suatu institusi tinggi maka produktivitas pekerja akan menurun. Ritme kerja juga jadi terganggu karena dampak nar­koba tidak hanya menghancurkan si pecandu tetapi juga rekan kerjanya yang lain. Efek lainnya adalah tingginya angka ke­celakaan kerja. Oleh karena itu, institusi maupun peru­sahaan wajib memastikan pe­kerjanya terbebas dari penyalah­gunaan narkoba.

Pencegahan

Untuk memastikan usia produktif tidak terjerumus, se­tidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Pertama, pencegahan. Upaya pencegahan dituju­kan bagi orang-orang yang sama sekali belum bersentuhan dengan narkoba. Kelompok ini harus dijaga tetap bersih melalui diseminasi informasi Pencegahan dan Pembe­ran­tasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Dengan begitu mereka akan tahu, sadar, dan paham bahaya narkoba sehingga memiliki daya tangkal (imun).

Komunitas masyarakat yang imun men­cegah munculnya kampung narkoba yang marak akhir-akhir ini. Kampung nar­koba biasa­nya muncul karena tidak ada kepedulian kelompok masyarakat terhadap kondisi di lingkungannya. Sebagian kelom­pok masya­ra­kat yang lain justru men­da­patkan manfaat dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di wilayahnya. Adanya kesa­daran masyarakat bisa meredam kemun­culan kampung narkoba sejak dini.

Kedua, rehabilitasi. Rehabilitasi di­arahkan bagi orang-orang yang sudah terkontaminasi narkoba baik bagi yang coba pakai, teratur pakai maupun pecandu berat. Mendiam­kan atau menyembuyikan mereka bukan solusi karena jus­tru akan berdampak negatif bagi keluarga maupun masya­ra­kat. Mereka harus diberi kesempatan untuk pulih. Rawat jalan ditujukan bagi pencadu yang masih dalam tahap coba pakai sedangan rawat inap bagi teratur pakai dan pecandu berat.

Rehabilitasi sukarela adalah pilihan terbaik bagi pecandu yang ingin lepas dari jerat narkoba. Dibutuhkan kesa­daran baik bagi si pecandu maupun ke­luarga untuk melaporkan diri. Hal itu sekaligus untuk menghindari mere­ka berurusan dengan hukum karena pa­da dasarnya penyalahgunaan nar­koba merupakan tindakan pidana. Jika tertangkap tangan menyalahgunakan narkoba secara ilegal disertai dengan barang bukti yang menyakinkan maka hukumannya bisa sangat berat.

Ketiga, pemberantasan.  Upaya pem­be­rantasan bertujuan untuk me­mutus mata rantai peredaran gelap nar­koba. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri telah bekerja keras da­lam mengungkap jaringan narkoba yang beroperasi di Indo­nesia. Peng­ungkapan demi pengungkapan terus dila­kukan namun tetap tak membuat para mafia narkoba kapok. Mereka se­lalu menggunakan modus yang beru­bah-ubah untuk me­ngelabui petugas.

Peran serta masyarakat dalam bi­dang pemberantasan sangat dibutuh­kan. Masyarakat bisa membantu teru­tama dalam memberikan informasi ada­nya peredaran gelap nar­koba di wi­la­yah masing-masing. Pengung­ka­pan jaringan narkoba selama ini domi­nan berasal dari laporan awal dari ma­syarakat.

Upaya pencegahan, rehabilitasi dan pemberantasan yang berkesinam­bungan diharapkan bisa menjadi ben­teng dalam meminimalkan penyalah­gunaan dan peredaraan gelap narkoba. Dengan begitu bonus demografi tidak menjadi bencana bagi bangsa kita.

Indonesia terancam kehilangan ge­nerasi muda akibat ting­ginya pengguna narkoba usia produktif. Narkoba juga sudah membunuh banyak generasi mu­da. Jangan sampai kita jadi tidak produktif gara-gara penyalahgunaan nar­koba.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |


Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Medan, Sabtu 29 April 2017

Versi web bisa dicek di www.analisadaily.com

Download versi e-paper di sini

Pangeran Dangdut Melawan Narkoba

Kolom Opini Harian Waspada 5 April 2017

Penyanyi dangdut Ridho Rhoma bersama seorang temannya ditangkap polisi terkait kasus kepemilikan narkotika jenis sabu seberat 0,76 gram di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat, Sabtu (25/3/2017) sekitar pukul 04.00 WIB. Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti lainnya yaitu satu set alat isap sabu, satu unit mobil, tiga unit handphone, satu buah bong, dan sebuah tutup botol.

Polisi pun kemudian melakukan penahanan terhadap Ridho terhitung sejak Senin (27/3/2017). Untuk urusan penahanan, penyidik kepolisian menggunakan pasal 24 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP sehingga jangka waktu penahanan maksimal adalah 20 hari.

Pihak keluarga pun langsung berinisiatif mengajukan rehabilitasi. Penyidik sepertinya tidak keberatan dengan permintaan keluarga Sang Pangeran Dangdut tersebut. Hal itu ditandai dengan keputusan penyidik mengarahkan Ridho untuk menjalani pemeriksaan narkoba di Laboratorium BNN, di Cawang, Jakarta Timur.

Sebelumnya pihak Polres Jakarta Barat sudah terlebih dahulu melakukan tes urine dan menyatakan Ridho positif mengonsumsi zat metamfetamin. Namun hasil tes urine saja tidak cukup sebagai pertimbangan untuk rehabilitasi. Ridho juga harus menjalani serangkaian tes lainnya meliputi darah dan rambut. Rangkaian tes itu bertujuan untuk mengetahui tingkat dan lama pemakaian yang bersangkutan apakah sudah kronis atau belum.

Empat Tahun

Keberadaan barang bukti narkotika Golongan I saat penangkapan membuat Ridho tidak serta-merta bisa langsung direhabilitasi. Apalagi penyidik menjeratnya menggunakan pasal 112 ayat (1) sub pasal 127 Jo pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Jika mengacu pada pasal 112 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 Ridho terancam dipidana dengan pidana penjara 4-12 tahun dan denda paling sedikit Rp 800 juta. Adapun pasal 127.

Dalam berbagai kasus termasuk yang menimpa artis atau selebriti, jerat pasal 112 ayat 1 kerap tak terhindarkan. Pasal ini menjerat orang-orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman. Hukuman penjara tentu bisa menghancurkan karier Ridho yang saat ini sedang berada di puncak.

Meski begitu, Ridho masih memiliki kesempatan untuk memulihkan diri dari jerat narkoba. Apalagi jika nantinya dia dikategorikan sebagai korban penyalahgunaan. Menurut ketentuan Pasal 54 UU No. 35 Tahun 2009 pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Proses hukum tetap berjalan namun jika permintaan keluarga dipenuhi oleh penyidik maka Ridho bisa segera direhabilitasi untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap narkoba. Penyidik dalam memenuhi permintaan keluarga bisa mempertimbangkan ketentuan dalam pasal 4 ayat 2 Peraturan Kepala (Perka) BNN Nomor 1 Tahun 2014 tentang tata cara penanganan tersangka dan/atau terdakwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi.

Dalam Perka BNN itu disebutkan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika yang tanpa hak dan melawan hukum sebagai tersangka yang ditangkap atau tertangkap tangan dan terdapat barang bukti dengan jumlah tertentu serta terbukti positif memakai Narkotika sesuai hasil tes urine, darah, rambut dan/atau DNA, selama proses peradilannya berlangsung dalam jangka waktu tertentu dapat ditempatkan di lembaga rehabilitasi yang dikelola oleh pemerintah, setelah dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan Hasil Laboratorium dan Berita Acara Pemeriksaan oleh Penyidik Polri atau Penyidik BNN dan telah dilengkapi dengan rekomendasi hasil asesmen Tim Asesmen Terpadu.

Tim Asesmen Terpadu (TAT) memiliki peran yang besar dalam menentukan status hukum pelantun “Menunggumu” tersebut. TAT memiliki kewenangan untuk melakukan analisis peran seseorang yang tertangkap, menentukan kriteria tingkat keparahan penggunaan narkotika serta merekomendasi rencana rehabilitasi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika.

TAT terdiri atas dua tim yakni tim dokter yang meliputi dokter dan psikolog yang telah memiliki sertifikasi asesor dari Kementerian Kesehatan serta tim hukum yang terdiri dari unsur Polri, BNN, Kejaksaan dan Kemenkumham. Tim dokter bertugas melakukan asesmen dan analisis medis, psikososial serta merekomendasi rencana terapi dan rehabilitasi penyalah guna narkotika. Adapun tim hukum bertugas melakukan analisis dalam kaitan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika dan penyalahgunaan narkotika berkoordinasi dengan penyidik yang menangani perkara.

Nantinya setelah menerima hasil pemeriksaan darah dan rambut Ridho dari Laboratorium BNN, tim langsung bekerja. Menurut ketentuan dalam Perka BNN, Tim Asesmen ini memiliki waktu maksimal enam hari untuk mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi hasil asesmen kemudian diserahkan kepada Penyidik untuk dilaporkan secara tertulis kepada Pengadilan Negeri setempat. Rekomendasi ini nantinya sebagai pegangan penyidik untuk memutuskan apakah tersangka perlu direhabilitasi atau tidak.

Jumlah barang bukti sabu saat tertangkap akan menjadi salah satu pertimbangan TAT. Sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Pecandu Narkotika ke Dalam Lembaga Rehabilitasi disebutkan bahwa penerapan pemidanaan sebagaimana dimaksud dengan Pasal 103 UU no 35 Tahun 2009 tentang Narkotika hanya dapat dijatuhkan kepada terdakwa yang tertangkap tangan dengan barang bukti pemakaian satu hari yakni kelompok metamfetamin (sabu) seberat 1 gram. Adapun barang bukti narkotika golongan I kelompok metamfetamin hasil tangkap tangan dalam kasus Ridho hanya seberat 0,76 gram atau masih di bawah ambang batas pemakaian satu hari.

Di sisi lain, pengakuan Ridho yang mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi penyalah guna narkoba sejak dua tahun terakhir akan diasesmen secara lebih mendalam lagi. Dari hasil asesmen tim dokter akan menyimpulkan tingkat keparahan Ridho apakah masih dalam tahap coba pakai, teratur pakai ataukah pecandu berat.

Dari pengakuannya tersebut kemungkinan besar Ridho bukan lagi sebagai penyalahguna tahap coba pakai. Pecandu yang dikategorikan pecandu teratur pakai maupun pecandu berat tidak direkomendasikan untuk rawat jalan apalagi perawatan di rumah tahanan.

Faktor penentu lainnya adalah ada-tidaknya keterlibatan Ridho dalam jaringan narkoba. Jika dia terlibat secara aktif dalam jaringan yang diduga memasok narkoba untuk para artis yang sedang didalami pihak kepolisian maka peluangnya lolos dari TAT sangat berat. Namun jika dia dinyatakan clear dan tidak terlibat dalam jaringan maka itu akan menjadi data penguat bagi tim.

Andaikan gagal saat masih dalam proses penyidikan, Ridho masih berpeluang direhabilitasi meskipun divonis bersalah oleh pengadilan. Pasal 103 UU No. 35 Tahun 2009 menyebutkan bahwa hakim yang memeriksa perkara pecandu narkotika dapat memutus dan memerintahkan yang bersangkutan direhabilitasi jika terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika. Apalagi jika pasal yang didakwakan kepadanya adalah pasal 127 ayat 1 maka rehabilitasi akan dijadikan sebagai hukuman pengganti.

Merujuk pada kasus Ridho Rhoma ini terlihat bahwa betapa pentingnya kesadaran bagi para pecandu untuk melaporkan diri sehingga bisa langsung direhabilitasi tanpa perlu menjalani proses hukum terlebih dahulu. Pengajuan rehabilitasi setelah tertangkap tangan walau memungkinkan namun membutuhkan proses yang cukup rumit. Meski bisa direhabilitasi, ancaman hukuman penjara tetap mengintai apalagi jika barang bukti di atas ambang batas pemakaian sehari.

Padahal efek adiksi seperti dialami Ridho yang sudah kecanduan selama dua tahun terakhir membutuhkan penanganan segera. Adiksi sesungguhnya sudah merupakan suatu hukuman yang sangat berat. Bahkan ada kasus adiksi yang terlambat ditangani berujung pada kematian.

Hal ini tentu juga perlu menjadi perhatian bagi kita semua betapa pentingnya peran keluarga dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda. Jangan sampai ada kejadian keluarga justru jadi orang terakhir yang mengetahui anaknya adalah penyalahguna narkoba.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Harian Waspada Medan Sabtu 4 Februari 2017

Download E-papernya di sini

Urgensi Tes Narkoba Bagi Calon Pengantin

Kolom Wacana Harian Medan Bisnis 5 April 2017

Pernikahan merupakan momentum paling ditunggu-tunggu pasangan yang sedang dimabuk asmara. Idealnya setelah pernikahan, kehidupan kedua mempelai menjadi bahagia, dinamis dan pernuh warna. Masalah-masalah yang timbul dalam rumah tangga seperti percekcokan merupakan hal wajar. Orang-orang menganggapnya sebagai bumbu penyedap dalam rumah tangga. Pertengkaran justru kadang membuat rumah tangga makin romantis dan hangat.

Namun ada kalanya kondisi ideal itu sulit diraih. Alih-alih romantis, kadang situasi rumah tangga tak ubahnya seperti neraka. Percekcokan terus terjadi sehingga memicu keduanya saling menyakiti. Bahkan pertengkaran juga sering diikuti tindak kekerasan fisik atau yang biasa disebut KDRT.

Ada banyak faktor pemicu terjadinya KDRT. Salah satunya adalah karena penyalahgunaan narkoba. Umumnya memang penyalahguna narkoba memang lebih tempramental menjurus kasar. Efek adiksi narkoba membuat seseorang jadi abai terhadap segala hal. Pemikiran pecandu itu sehari-harinya hanya berkutat untuk memenuhi dahaga adiksinya.

Tak banyak pasangan yang bisa bertahan menghadapi kondisi seperti itu. Kesabaran seseorang pasti ada batasnya apalagi jika sudah menyangkut kekerasan fisik bahkan penelantaran. Ujung-ujungnya terjadi perceraian.

Bubarnya suatu rumah tangga karena narkoba biasanya disebabkan ketidaktahuan si pasangan. Andaikan saja telah mengetahui bahwa calon pasangannya adalah pecandu, kemungkinan besar ia akan berpikir ulang. Bisa saja dia jadi ragu meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan.

Coba-coba

Ketidaktahuan seringkali juga menimpa orang tua pecandu. Sebenarnya keluarga bisa mencegah jika jeli dalam membaca situasi. Seorang penyalahguna  tidak ujug-ujug menjadi pecandu berat. Ada proses yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikis. Proses penyalahgunaan narkoba memiliki pola tertentu yang diawali dengan coba-coba (eksperimental), rekreasional, situasional, dan berakhir dengan kecanduan (adiksi).

Ciri fisik dan psikis inilah yang perlu diperhatikan. Secara fisik, pecandu umumnya kurus, wajah pucat dan bermunculan flek hitam, pipi semakin cekung, hidung meler, gigi rusak dan menghitam, mata memerah, bicara pelo, dan keringat berlebih. Adapun dilihat dari segi psikisnya, penyalahguna cenderung agresif dan kasar, sensitif, paranoid, dan anti sosial.

Upaya mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati. Sebelum calon pengantin terlanjur menjadi pecandu berat, pihak keluarga bisa mengambil suatu tindakan. Jika ditemukan ciri-ciri seperti yang sudah disebutkan di atas tak ada salahnya jika dilakukan tes urine kepada yang bersangkutan. Semua itu demi kebaikan dirinya dan calon pasangannya kelak.

Lembaga keagamaan juga memiliki peran yang strategis dalam menyosialisasikan tes narkoba bagi calon pengantin. Hasil pemeriksaan urine tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan atau berkas pelengkap untuk pernikahan. Meskipun tak diatur dalam undang-undang namun tes urine sebelum pernikahan juga tak bertentangan dengan aturan yang ada.

Tes urine bisa dilakukan di kantor BNN terdekat secara transparan. Hasil tes bisa diketahui pada hari itu juga. Lantas bagaimana jika hasil tes urine calon mempelai ternyata positif? Apakah pernikahan mereka harus dibatalkan? Semua tergantung kepada si calon mempelai maupun keluarga besarnya. Pernikahan bisa tidak perlu dibatalkan tetapi ditunda sementara. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada si pecandu menjalani rehabilitasi medis maupun sosial.

Rehabilitasi

Rehabilitasi suka-rela adalah solusi paling baik bagi pecandu yang ingin berubah. Keluarga hendaknya proaktif dan bukannya menyembunyikan kenyataan tersebut. Tak perlu menganggap pecandu sebagai aib karena itu tidak menyelesaikan masalah.

Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, penyalahgunaan narkotika merupakan tindakan pidana. Pasal 127 menyebutkan bahwa penyalahguna narkotika golongan I  dipidana maksimal 4 tahun, sedangkan golongan II maksimal 2 tahun, dan golongan III maksimal 1 tahun.

Tindakan rehabilitasi juga sebagai upaya pencegahan agar yang bersangkutan tidak terjerat masalah hukum. Perlu diketahui, rehabilitasi tidaklah seperti penjara. Selain memulihkan kecanduan, peserta rehab juga dibekali keahlian praktis yang kelak bisa dijadikan sebagai mata pencaharian alternatif. Dengan begitu orang yang telah pulih dari adiksi bisa lebih siap berumah tangga.

Dari uraian di atas jelas bahwa pernikahan sekadar bermodal cinta tak cukup. Kesiapan kedua calon mempelai secara fisik dan psikis juga diperlukan. Tak ada salahnya jika kedua calon melakukan tes urine secara sukarela. Hal itu dilakukan demi kebaikan mereka juga.

 

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Kolom Wacana Harian Analisa, Edisi Rabu, 5 April 2017

Download versi epaper/pdf di sini

Narkoba (Tak) Seheboh Isu Penculikan Anak

Kolom Opini Harian Analisa

Akhir-akhir ini marak informasi berseliweran terutama di media sosial  tentang kasus penculikan anak di berbagai daerah. Informasi yang beredar, para penculik sering melakukan penyamaran dalam menjalankan aksinya sehingga membuat si calon korban maupun pihak sekolah terkecoh. Disebutkan juga bahwa para pelaku bisanya berpura-pura menjadi gila ketika kedoknya terbongkar.

Kehebohan tersebut diperkuat dengan terjadinya penangkapan pelaku penculikan anak yang dilakukan oleh masyarakat bermunculan di jejaring sosial terutama Facebook. Dalam info yang dibagikan ramai-ramai para netizen itu disebutkan pelaku yang umumnya perempuan ataupun laki-laki menyamar menjadi perempuan tampak bengong menjadi tontonan saat tertangkap.

Kekhawatiran orang tua makin menjadi-jadi ketika diungkapkan bahwa anak-anak yang diculik banyak yang tak kembali. Menurut informasi yang beredar anak-anak korban penculikan ini akan dijual organ tubuhnya dengan harga yang sangat mahal.

Berita mengenai penculikan anak dan organnya dijual ini menjadi topik yang sangat viral. Disertai foto-foto kondisi korban yang sangat mengerikan menimbulkan interpretasi yang beragam bagi para orang tua.

Imbasnya, di berbagai tempat terjadi penganiayaan orang-orang yang disangka sebagai penculik. Padahal yang diduga sebagai penculik anak itu adalah benar-benar orang gila. Kejadian seperti itu bukan lagi isu dan benar-benar terjadi di beberapa daerah. Informasi yang belum terverifikasi ini telah membuat para orang tua pontang-panting.

Di sisi lain, bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan anak-anak yang jelas-jelas nyata di depan mata tapi tak seheboh kasus penculikan. Padahal korban yang berjatuhan sudah banyak. Bahkan karena maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap, negara kita sekarang dalam kondisi darurat narkoba.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Puslitkes Universitas Indonesia (UI) Tahun 2015 tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui bahwa angka prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai 2,20% atau sekitar 4.098.029 orang dari total populasi penduduk (berusia 10 – 59 tahun). Sebanyak 35-50 orang meninggal sia-sia setiap hari akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba baik secara langsung maupun tidak.

Penculikan anak ini memang sangat mengerikan, tetapi penyalahgunaan narkoba tak kalah menakutkan. Belakangan ini para pengedar narkoba menggunakan berbagai cara untuk menjaring pasar dari kalangan belia.

Penyalahgunaan narkoba di kalangan anak jauh lebih mengkhawatirkan dari yang kita duga. Penyesatan anak melalui narkoba sebenarnya merupakan sebuah upaya sistematis yang dilakukan oleh para penjahat narkoba. Tujuannya jelas, agar si anak bisa menjadi konsumen loyal dalam waktu yang lama. Syukur-syukur si anak bisa diperalat menjadi kurir maupun pengedar di kemudian hari.

Teman Sebaya

Sama seperti kasus penculikan yang menggunakan cara-cara terorganisir, para bandar dan mafia narkoba juga tak kalah cerdik. Mereka mengelabui anak-anak dengan berbagai cara. Para penjahat ini tak lagi tampak sebagai sosok yang menyeramkan sehingga membuat anak-anak menjadi takut. Mereka kadang menggunakan anak-anak juga sebagai umpan untuk menjerat anak lainnya.

Mereka paham benar bahwa anak-anak sangat tergantung pada teman sebayanya (peer group). Dalam kasus penculikan anak-anak yang berbaur dengan teman sepermainannya relatif lebih aman tapi dalam penyalahgunaan narkoba tak ada jaminan. Jika penculik umumnya mengincar anak-anak yang sendirian, bandar narkoba justru bisa mengincar anak-anak dalam satu geng/kumpulan sekaligus.

Para bandar menanamkan doktrin kepada anak-anak yang dianggap memiliki pengaruh kepada teman-temannya untuk dijadikan sebagai kurir maupun pengedar. Si anak inilah yang kemudian menyebarkan pengaruh negatif kepada kawan-kawannya yang lain. Berdalih sebagai bagian dari pergaulan, mulailah dia mencekoki teman-temannya yang lain.

Modus lain yang tak kalah mengerikannya adalah peredaran narkoba yang telah dicampur ke dalam makanan. Umumnya jajanan terutama permen tersebut diedarkan di sekitar sekolah. Dari tampilan kemasan maupun isinya tak ada bedanya permen narkoba dengan permen asli. Hanya saja setelah mengonsumsinya akan terjadi perubahan prilaku pemakainya. Jika si anak rutin mengonsumsinya maka ia akan kecanduan.

Baik guru di sekolah maupun orang tua di rumah kerap tak menyadari hal ini. Apalagi gejala-gejala awal anak-anak korban penyalahgunaan narkoba tak terlalu nampak baik secara fisik maupun psikis. Tak ada perbedaan secara kasat mata antara anak normal dengan korban penyalahgunaan narkoba yang masih dalam fase coba pakai.

Seringkali orang tua justru menjadi orang terakhir yang mengetahui anaknya telah menjadi pecandu narkoba. Si anak ketahuan menjadi korban penyalahgunaan justru ketika kondisinya sudah memprihatinkan yakni menjadi pecandu berat.

Berbeda dengan kasus penculikan, dalam penyalahgunaan narkoba si anak secara fisik memang tidak hilang. Hanya saja dari sisi mental, prilaku, kesehatan dan tumbuh kembang anak menjadi sangat terganggu. Jika orang tua tidak menyadari hal itu maka masa depannya bisa hancur bahkan bisa berujung pada kematian.

Selektif

Jika isu penculikan yang belum pasti kebenarannya membuat kita gempar, mengapa penyalahgunaan narkoba di kalangan anak sepertinya biasa-biasa saja? Narkoba itu adalah mesin pembunuh massal dan jelas itu bukan merupakan hoax. Sudah sewajarnya jika upaya pencegahan sejak dini diajarkan kepada anak-anak.

Salah satunya adalah dengan selektif dalam memilih jajanan di sekolah. Jajan sembarangan akan membuat anak-anak rentan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi narkoba. Bila perlu, batasi uang jajan jangan sampai berlebih untuk meminimalkan potensi tersebut. Bila perlu anak-anak dibekali ransum dari rumah. Selain lebih hemat, dipastikan menunya lebih bergizi.

Anak-anak juga perlu diajarkan tentang pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab sejak dini. Seperti sudah disebutkan di atas faktor tekanan peer group sangat mempengaruhi sangat mempengaruhi keseharian si anak. Jika dia bergaul dengan pecandu narkoba, bisa saja kelak si anak juga tertular.

Tidak kalah penting, aktivitas keseharian anak perlu dipantau secara intensif. Saat si anak berada di sekolah bukan berarti tanggung-jawab sepenuhnya ada di tangan para guru. Komunikasi merupakan salah satu kunci dalam mengontrol aktivitas mereka.

Ingat, narkoba adalah ancaman nyata bagi anak-anak kita dan itu bukan hoax.

 

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Kolom Opini Harian Analisa, Edisi Jumat, 24 Maret 2017

Download versi epaper/pdf di sini

Bayi Terpapar Narkoba, Rapuhnya Peran Keluarga

Kolom Opini Harian Waspada

Peristiwa memilukan terjadi di Kalimantan Tengah baru-baru ini. Seorang bayi perempuan yang baru berusia lima bulan dinyatakan potitif terdampak narkoba jenis sabu. Bayi malang tersebut kecanduan narkoba karena rutin mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) ibunya yang merupakan penyalahguna sabu.

Ibu si bayi diketahui adalah istri seorang pengedar yang ditangkap di sebuah kios miliknya bersama seorang rekannya di Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya. Barang bukti yang disita berupa 8 paket sabu dengan berat kotor 5,5 gram, uang tunai sejumlah Rp. 1 juta, 1 timbangan, 1 bungkus plastik klip, 1 sendok dari sedotan, 2 telepon genggam, 2 bong dan 1 mancis.

Ayah balita tersebut diketahui dengan sengaja memberikan sabu kepada istrinya yang berusia 22 tahun. Akibatnya si istri menjadi kecanduan berat. Mereka terbiasa mengonsumsi sabu secara bersama-sama. Parahnya, saat menggelar pesta narkoba, si bayi juga biasa diletakkan di dekat mereka.

Pada saat penggerebekan, petugas BNN awalnya hanya berniat memeriksa urine pasangan suami-istri tersebut. Namun, saat pemeriksaan tengah berlangsung si bayi ternyata sangat rewel, gelisah, dan sering menangis tidak jelas. Suhu tubuhnya pun cukup tinggi.

Bayi pada umumnya secara naluriah memang akan menangis ketika lapar atau haus. Namun sikap gelisah dan rewelnya yang tidak wajar itu karena efek adiksi yang telah menimpanya dalam usia masih sangat belia.

Petugas pun menjadi curiga dan lantas berinisiatif  mengecek urine balita itu. Ternyata hasil tes urine menunjukkan si bayi juga positif terpapar narkotika jenis sabu. Temuan yang membuat miris ini bisa jadi merupakan yang pertama kali terungkap.

Akibat kedua orang tuanya telah diperbudak oleh narkoba, si anak ikut terkena dampak buruknya. Karena sang ibu memakai sabu maka zat yang telah masuk dalam tubuhnya kemudian juga berdampak pada sang anak yang ditularkan melalui ASI yang disusukan.

Reaksi sabu pada anak yang tertular melalui ASI lebih cepat dan lebih mengerikan dibanding saat orang dewasa yang menghisap langsung. Metamfetamin, istilah lain sabu, memang dapat dikeluarkan melalui air susu ibu ke bayi dalam jumlah besar. Tidak mengherankan jika American College of Obstetric & Gynecology melarang penggunaan metamfetamin pada pecandu yang menyusui.

Jarak antara menyusui dengan dosis terakhir metamfetamin harus setidaknya 48 jam. Konsentrasi narkotika jenis ini mencapai 2,5 x lebih banyak saat dikeluarkan di air susu daripada jumlah di dalam cairan tubuh ibu. Bahkan pernah juga terjadi kasus kematian bayi setelah menyusu dari ibu pengguna metamfetamin.

Hukuman Berat

Sang suami sudah sangat wajar diberikan sanksi hukum yang berat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sudah tepat bila penyidik mengganjarnya dengan pasal 114 ayat 1 jo pasal 112 ayat 1 jo pasal 132 ayat 1. Ancaman hukuman pidana yang bisa menjeratnya sesuai pasal tersebut adalah penjara seumur hidup, atau penjara 5-20 tahun dan pidana denda Rp 1 miliar –Rp 10 miliar.

Hukumannya bahkan seharusnya bisa lebih berat jika disangkakan juga dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang-Undang  Nomor 23 tentang Perlindungan Anak. Tindakan sang suami yang mencekoki istrinya narkoba merupakan tindakan kekerasan fisik dan psikis. Akibat tindakan biadapnya itu si anak juga menjadi kecanduan narkoba meski usianya masih sangat muda.

Lantas bagaimana dengan sang istri? Status hukumnya perlu mendapat kejelasan dari Tim Asesmen Terpadu (TAT) yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, BNN, dan medis. Dari rekomendasi TAT akan bisa diketahui apakah si istri terlibat jaringan ataukah sebatas korban penyalahgunaan. Jika terlibat dalam jaringan maka yang bersangkutan juga harus diproses hukum. Namun jika TAT menyimpulkan si ibu sebagai korban penyalahgunaan maka dia harus direhabilitasi baik secara medis maupun sosial.

Persoalannya adalah ia memiliki seorang bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Rehabilitasi setidaknya membutuhkan waktu paling singkat selama tiga bulan. Di sisi lain, si bayi juga tak layak terus-menerus disusui dengan ASI yang terkontaminasi narkoba. Membiarkan si bayi tetap menyusu kepada ibu kandungnya sama saja dengan tetap mencekokinya dengan zat haram.

Keprihatian kita justru membuncah kepada bayi mungil yang tak berdosa tersebut. Dia tidak tahu apa-apa mengenai sepak terjang kedua orang tuanya dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis ketika efek adiksi narkoba sedang menyiksanya.

Bahkan bukan tidak mungkin bayi juga terkena efek lepas obat (sakaw) saat dihentikan pemberian ASI-nya. Beberapa kemungkinan penyakit juga bisa memilki dampak langsung adalah susah tidur, tremor, dan muntah-muntah.

Peneliti dari Inggris menyebutkan selain berpotensi cacat, bayi yang terpapar narkoba sejak masih dalam kandungan juga memiliki risiko tinggi mengalami gangguan psikotik (kelainan jiwa). Bayi mungil tersebut sangat memerlukan penanganan khusus.

Pelajaran Penting

Dari kejadian ini beberapa pelajaran penting bisa ditarik. Pertama, betapa rapuhnya rumah tangga yang telah dibumbui narkoba. Ibaratnya rumah tangga seperti itu sudah di ambang kehancuran. Bila si suami jadi pengedar atau bandar penghasilannya memang akan menggiurkan tapi hukuman berat mengintai sewaktu-waktu. Namun begitu si suami masuk penjara maka istri dan anaknya akan mengalami kesulitan ekonomi. Dalam beberapa kasus, si istri juga terlibat dalam jaringan suami sehingga ikut diamankan oleh petugas.

Kedua, Kasih sayang sudah tak ada ketika narkoba sudah hadir dalam keluarga. Bagi penyalahguna, hal yang paling dicari dalam hidup ini adalah memenuhi kepuasan semu dahaga adiksi. Dalam mencari kenikmatan semu itu, segala cara digunakan dan semua yang menghalangi akan dihancurkan termasuk keluarga sendiri.

Maraknya kekerasan dalam rumah tangga akhir-akhir ini  salah satunya dipicu oleh penyalahgunaan narkoba. Prilaku pecandu biasanya menjadi tidak stabil, emosional, kasar dan dan biasanya dilampiaskan ke orang-orang terdekatnya. Tak ada lagi kasih sayang, bahkan terkadang seorang suami tega mencekoki istrinya dengan narkoba. Jika si istri tidak mau maka siap-siaplah menerima kekerasa baik secara fisik dan psikis. Tidak mengherankan jika keluarga yang sudah terkontaminasi dengan narkoba banyak yang berujung pada perceraian.

Ketiga, tumbuh kembang anak terganggu apabila orang tua terlibat penyalahgunaan narkoba. Perlu dipahami bahwa kepribadian dan masa depan anak kelak sangat dipengaruhi pola asuh orang tuanya. Jika orang tuanya adalah pecandu maka si anak akan tumbuh dalam rumah tangga berantakan dan kurang kasih sayang.

Seorang anak bahkan bisa terpapar narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang pecandu. Racun-racun dari sang tersebut juga akan ikut mengalir melalui tali pusar menuju plasenta. Akibatnya perkembangan organ-organ vital janin akan terganggu bahkan bisa menimbulkan cacat tubuh kelak.

Ketika sudah lahir dan tumbuh menjadi seorang anak sejumlah masalah akan terus membelit. Dia menjadi pecandu dalam usia yang masih belia. Keberadaannya juga akan berdampak pada lingkungan sekitarnya terutama anak-anak lain yang menjadi teman sepermainannya.

Berkaca dari kasus di Kalimantan Tengah ini tampak jelas betapa dahsyat dampak buruk narkoba terhadap kelangsungan dan keharmonisan sebuah keluarga. Karena itu upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin di lingkungan masing-masing. Narkoba awalnya merupakan masalah individu tapi jika dibiarkan akan meresahkan masyarakat bahkan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Harian Waspada Medan Sabtu 4 Februari 2017

Download E-papernya di sini