Ammar Zoni dan Lingkungan Rentan Narkoba

Harian Analisa Medan Edisi Kamis 27 Juli 2017

Tak ada yang menyangka artis rupa­wan yang sedang naik daun, Ammar Zoni, di­tangkap polisi karena ter­sang­kut ma­sa­lah nar­koba. Sangat disa­yangkan ka­rena pesohor sekaligus pesilat ini sebelumnya dikenal cukup aktif kam­pa­nye mengajak gene­rasi muda untuk menjauhi narkoba.

Faktanya, pemeran Boy dalam sine­tron Anak Jalanan ini ter­tang­kap tangan saat mengonsumsi ganja di rumahnya, Depok, bersama adik dan kedua asisten­nya pada 7 Juli lalu. Di dalam kamarnya ditemukan satu toples berisi narkoba jenis ganja seberat 39,1 gram. Kuat dugaan ia telah aktif mengkon­sumsi narkoba baik ganja maupun sabu sejak satu tahun ter­akhir.

Penyidik kepolisian menjerat pesine­tron kelahiran 8 Juni 1993 ini dengan pasal 111 ayat 1 dan pasal 132 ayat 1 UU No­mor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. An­caman pidananya adalah 12 tahun pen­jara. Hal ini sangat disayangkan karena oto­matis akan mematikan karier kekasih Ranty Maria ini yang sedang berada di puncak popularitas jika terbukti bersalah.

Seperti sudah menjadi sebuah tradisi, penangkapan artis karena narkoba selalu bikin heboh. Pertanyaan yang sering meng­emuka adalah mengapa banyak artis yang terjerat nar­koba? Sebenarnya sama saja, tak ada bedanya antara masyarakat umum dengan public figure seperti artis, sama-sama rentan.

Narkoba telah merasuk ke semua ka­langan dan elemen mulai dari kota besar hingga pelosok desa, kelas masyarakat berpen­didikan tinggi hingga terendah, profesi formal maupun infor­mal. Narkoba tak pandang bulu, siapa saja yang men­cobanya bisa terjerat adiksi ter­utama yang terus-menerus menyalah­gu­nakannya.

Artis hanyalah salah satu profesi dari se­kian banyak peker­jaan yang dekat dan ra­wan bersinggungan dengan penyalah­gu­naan narkoba. Kasusnya terasa lebih bom­bastis dibandingkan dengan awam lan­taran predikat melekat sebagai peso­hor yang memiliki nilai berita cukup tinggi di media.

Bahkan terkadang selebriti yang sudah tak terlalu populer pun mendadak tenar lagi karena ada kasus narkoba yang baru. Begitu pula ada beberapa pesohor yang selalu menjadi lang­ganan pemberitaan karena pernah menyalahgunakan narko­ba. Pada akhirnya mereka hanya bisa pas­rah karena faktanya me­m­ang pernah salah langkah.

Tekanan Pekerjaan

Ada beberapa faktor penyebab me­ngapa banyak selebriti terjerat dan ber­urusan dengan narkoba. Pertama, tekanan pe­ker­­jaan. Harus diakui, jam kerja para artis berbeda dengan jenis pekerjaan lain pada umumnya. Para pesohor terutama yang bekerja dalam proyek kejar tayang harus bekerja ekstra bah­kan lembur se­cara terus-menerus.

Di sisi lain penggemar tak pernah tahu dengan rasa letih mereka. Para artis ini tetap dituntut tampil prima dimanapun dan kapanpun di depan publik. Sebagian di antaranya lantas ter­giur dengan iming-iming bahwa narkoba bisa membuat sta­mina tetap bugar.

Padahal stamina prima itu hanyalah ilu­si. Kenyataan yang ada di depan mata, efek adiksi mulai menggerogoti tubuh si pe­sohor. Jika tak segera ditangani maka yang bersangkutan bisa menjadi pencan­du berat.

Kedua, pergaulan. Sebagian besar se­lebriti sadar maupun tidak sebenarnya berada pada pergaulan yang berisiko tinggi. Mereka berteman dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan kerap ber­kunjung ke tempat hiburan untuk keperluan kerja ataupun sekadar melepas penat.

Pesohor yang tak bisa menjaga per­gaulan dalam mengejar karier kerap ter­goda. Umumnya hal ini dialami artis pen­datang baru yang mengalami gegar bu­daya (culture shock). Mereka tidak siap dengan culture yang bisa bertolak be­lakang dibanding saat belum menjadi artis. Pergaulan mereka bisa jadi berubah total ketika menjadi terkenal.

Ketiga, materi yang lebih dari cukup. Profesi sebagai artis memang menjanji­kan rupiah yang berlimpah sehingga banyak yang terobsesi terjun menggeluti­nya. Hidup mewah dengan materi yang me­limpah terkadang membuat seseorang jadi lupa diri. Bagi orang yang labil tak ha­nya ketiadaan materi yang bikin bi­ngung, materi berlebih pun bisa me­mu­sing­kan.

Hal ini sekaligus menjadi daya tarik para bandar untuk mendekati mereka. Secara ekonomis, konsumen dari kala­ngan artis jauh lebih menggiurkan. Tidak mengherankan, bermun­culan jaringan pe­ngedar yang khusus menjaring konsu­men dari selebriti.

Keempat, putus asa dan frustrasi. Umumnya hal ini dialami para public fi­gure yang tak lagi mendapat banyak job. Banyak di antaranya yang tidak siap dengan keadaan seperti itu. Dulu mung­kin  artis tersebut dielu-elukan maupun di­kejar-kejar para fans kemanapun dia per­gi, namun sekarang tak ada lagi yang pe­duli. Akibatnya si pesohor terkena post po­wer syndromeyang berujung pada hal-hal destruktif.

Beberapa di antaranya kemudian men­jadikan narkoba seba­gai pelarian. Awal­nya hanya coba-coba fly sejenak untuk me­lu­pa­­kan segala persoalan hidup. La­ma-kelamaan hal itu men­jadi rutinitas dan kebutuhan yang tak bisa lagi dihin­dar­kan. Kar­ier tetap redup, masalah terus me­numpuk dan hidup telah diper­­budak nar­koba.

Menjerumuskan

Keempat faktor tersebut tak selalu berdiri sendiri. Terkadang saling bersing­gu­ngan dan beririsan membentuk sebuah ling­karan. Lingkaran tersebut ibaratnya merupakan suatu lingkaran setan yang menjadi momok menakutkan dan siap menjerumus­kan kaum selebritis yang bermental rapuh.

Meski faktornya bermacam-macam, hasil akhirnya sama yakni berujung pada kehancuran baik karier, keluarga maupun masa depan. Jika dulu mereka merasakan bagaimana panasnya atmosfer dikerubuti para fans, sekarang mereka dibekap di­ngin­­nya udara di balik jeruji akibat per­gu­mulan dengan narkoba.

Tak semuanya memang hancur dan meng­hilang. Beberapa di antaranya justru ber­tobat, bangkit dan kembali berhasil me­niti puncak popularitas. Slank adalah con­toh kecil sebagian musisi yang bisa bang­kit dari keterpurukan karena pe­ngaruh narkoba.

Bimbim dan Kaka sebagai motor penggerak Slank pernah merasakan band yang mereka besarkan hancur berantakan karena narkoba. Tiga rekan mereka yakni Bongky, Indra dan Pay pun akhirnya memilih keluar dan membentuk band BIP karena tak sanggup lagi bekerja sama de­ngan Bimbim dan Kaka yang telah kec­anduan. Saat itu Slank pun terancam bub­ar.

Untungnya Bunda Iffet, ibu Bimbim yang kemudian ber­inisia­tif mengambil alih kursi manajer Slank. Perlahan namun pasti ia berhasil menuntun kembali kedua orang tersebut ke jalan yang benar. Setelah beberapa kali menjalani rehabilitasi akhir­nya Bimbim dan Kaka pulih dan kembali aktif bermusik.

Dengan perjuangan dan disiplin yang keras formasi baru Slank perlahan-lahan kembali menjelma menjadi band yang diper­hitung­kan di tanah air. Bahkan kini band rock tersebut ter­libat aktif dalam kam­panye pencegahan penyalahgunaan dan rehabilitasi bagi pecandu narkotika. Mar­kas besar mereka di Gang Potlot di ka­wasan Duren Tiga, Jakarta Selatan ke­rap didatangi fans yang kecanduan untuk sekadar meminta saran agar bisa pulih.

Dunia keartisan memang menawarkan gaya hidup yang glamor. Namun di balik ge­merlapnya dunia tersebut tersimpan ber­­bagai jebakan negatif termasuk nar­koba. Siapa pun yang terjun ke dalamnya ha­rus bisa menjaga diri sehingga tidak ter­gelin­cir di kemudian hari. Telah banyak contoh buruk bermun­culan yang seharus­nya bisa menjadi pelajaran berharga bagi para artis tersebut.

Ammar Zoni hanyalah satu di antara sekian banyak pesohor yang hidup dalam ling­kungan rawan penyalahgunaan dan per­e­daran gelap narkoba. Jalan satu-sa­tunya adalah mem­bentengi diri dari pe­ngaruh buruk narkoba. Bijaklah dalam per­­gau­lan karena tidak semua yang enak-enak itu baik.

Keluarga dan orang-orang terdekat me­miliki pengaruh signi­fikan dalam menghindarkan seseorang dari pengaruh nar­koba. Mendekatlah kepada keluarga, bu­kan kepada narkoba, jika ingin meraih ke­suksesan dalam hidup.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |


Tulisan ini dimuat di Harian Analisa Medan, Kamis 27 Juli 2017

Versi web bisa dicek di www.analisadaily.com

Download versi e-paper di sini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s