Urgensi Tes Narkoba Bagi Calon Pengantin

Kolom Wacana Harian Medan Bisnis 5 April 2017

Pernikahan merupakan momentum paling ditunggu-tunggu pasangan yang sedang dimabuk asmara. Idealnya setelah pernikahan, kehidupan kedua mempelai menjadi bahagia, dinamis dan pernuh warna. Masalah-masalah yang timbul dalam rumah tangga seperti percekcokan merupakan hal wajar. Orang-orang menganggapnya sebagai bumbu penyedap dalam rumah tangga. Pertengkaran justru kadang membuat rumah tangga makin romantis dan hangat.

Namun ada kalanya kondisi ideal itu sulit diraih. Alih-alih romantis, kadang situasi rumah tangga tak ubahnya seperti neraka. Percekcokan terus terjadi sehingga memicu keduanya saling menyakiti. Bahkan pertengkaran juga sering diikuti tindak kekerasan fisik atau yang biasa disebut KDRT.

Ada banyak faktor pemicu terjadinya KDRT. Salah satunya adalah karena penyalahgunaan narkoba. Umumnya memang penyalahguna narkoba memang lebih tempramental menjurus kasar. Efek adiksi narkoba membuat seseorang jadi abai terhadap segala hal. Pemikiran pecandu itu sehari-harinya hanya berkutat untuk memenuhi dahaga adiksinya.

Tak banyak pasangan yang bisa bertahan menghadapi kondisi seperti itu. Kesabaran seseorang pasti ada batasnya apalagi jika sudah menyangkut kekerasan fisik bahkan penelantaran. Ujung-ujungnya terjadi perceraian.

Bubarnya suatu rumah tangga karena narkoba biasanya disebabkan ketidaktahuan si pasangan. Andaikan saja telah mengetahui bahwa calon pasangannya adalah pecandu, kemungkinan besar ia akan berpikir ulang. Bisa saja dia jadi ragu meneruskan hubungan ke jenjang pernikahan.

Coba-coba

Ketidaktahuan seringkali juga menimpa orang tua pecandu. Sebenarnya keluarga bisa mencegah jika jeli dalam membaca situasi. Seorang penyalahguna  tidak ujug-ujug menjadi pecandu berat. Ada proses yang ditandai dengan perubahan fisik dan psikis. Proses penyalahgunaan narkoba memiliki pola tertentu yang diawali dengan coba-coba (eksperimental), rekreasional, situasional, dan berakhir dengan kecanduan (adiksi).

Ciri fisik dan psikis inilah yang perlu diperhatikan. Secara fisik, pecandu umumnya kurus, wajah pucat dan bermunculan flek hitam, pipi semakin cekung, hidung meler, gigi rusak dan menghitam, mata memerah, bicara pelo, dan keringat berlebih. Adapun dilihat dari segi psikisnya, penyalahguna cenderung agresif dan kasar, sensitif, paranoid, dan anti sosial.

Upaya mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati. Sebelum calon pengantin terlanjur menjadi pecandu berat, pihak keluarga bisa mengambil suatu tindakan. Jika ditemukan ciri-ciri seperti yang sudah disebutkan di atas tak ada salahnya jika dilakukan tes urine kepada yang bersangkutan. Semua itu demi kebaikan dirinya dan calon pasangannya kelak.

Lembaga keagamaan juga memiliki peran yang strategis dalam menyosialisasikan tes narkoba bagi calon pengantin. Hasil pemeriksaan urine tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan atau berkas pelengkap untuk pernikahan. Meskipun tak diatur dalam undang-undang namun tes urine sebelum pernikahan juga tak bertentangan dengan aturan yang ada.

Tes urine bisa dilakukan di kantor BNN terdekat secara transparan. Hasil tes bisa diketahui pada hari itu juga. Lantas bagaimana jika hasil tes urine calon mempelai ternyata positif? Apakah pernikahan mereka harus dibatalkan? Semua tergantung kepada si calon mempelai maupun keluarga besarnya. Pernikahan bisa tidak perlu dibatalkan tetapi ditunda sementara. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada si pecandu menjalani rehabilitasi medis maupun sosial.

Rehabilitasi

Rehabilitasi suka-rela adalah solusi paling baik bagi pecandu yang ingin berubah. Keluarga hendaknya proaktif dan bukannya menyembunyikan kenyataan tersebut. Tak perlu menganggap pecandu sebagai aib karena itu tidak menyelesaikan masalah.

Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, penyalahgunaan narkotika merupakan tindakan pidana. Pasal 127 menyebutkan bahwa penyalahguna narkotika golongan I  dipidana maksimal 4 tahun, sedangkan golongan II maksimal 2 tahun, dan golongan III maksimal 1 tahun.

Tindakan rehabilitasi juga sebagai upaya pencegahan agar yang bersangkutan tidak terjerat masalah hukum. Perlu diketahui, rehabilitasi tidaklah seperti penjara. Selain memulihkan kecanduan, peserta rehab juga dibekali keahlian praktis yang kelak bisa dijadikan sebagai mata pencaharian alternatif. Dengan begitu orang yang telah pulih dari adiksi bisa lebih siap berumah tangga.

Dari uraian di atas jelas bahwa pernikahan sekadar bermodal cinta tak cukup. Kesiapan kedua calon mempelai secara fisik dan psikis juga diperlukan. Tak ada salahnya jika kedua calon melakukan tes urine secara sukarela. Hal itu dilakukan demi kebaikan mereka juga.

 

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Kolom Wacana Harian Analisa, Edisi Rabu, 5 April 2017

Download versi epaper/pdf di sini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s