Pangeran Dangdut Melawan Narkoba

Kolom Opini Harian Waspada 5 April 2017

Penyanyi dangdut Ridho Rhoma bersama seorang temannya ditangkap polisi terkait kasus kepemilikan narkotika jenis sabu seberat 0,76 gram di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat, Sabtu (25/3/2017) sekitar pukul 04.00 WIB. Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti lainnya yaitu satu set alat isap sabu, satu unit mobil, tiga unit handphone, satu buah bong, dan sebuah tutup botol.

Polisi pun kemudian melakukan penahanan terhadap Ridho terhitung sejak Senin (27/3/2017). Untuk urusan penahanan, penyidik kepolisian menggunakan pasal 24 ayat 1 dan ayat 2 KUHAP sehingga jangka waktu penahanan maksimal adalah 20 hari.

Pihak keluarga pun langsung berinisiatif mengajukan rehabilitasi. Penyidik sepertinya tidak keberatan dengan permintaan keluarga Sang Pangeran Dangdut tersebut. Hal itu ditandai dengan keputusan penyidik mengarahkan Ridho untuk menjalani pemeriksaan narkoba di Laboratorium BNN, di Cawang, Jakarta Timur.

Sebelumnya pihak Polres Jakarta Barat sudah terlebih dahulu melakukan tes urine dan menyatakan Ridho positif mengonsumsi zat metamfetamin. Namun hasil tes urine saja tidak cukup sebagai pertimbangan untuk rehabilitasi. Ridho juga harus menjalani serangkaian tes lainnya meliputi darah dan rambut. Rangkaian tes itu bertujuan untuk mengetahui tingkat dan lama pemakaian yang bersangkutan apakah sudah kronis atau belum.

Empat Tahun

Keberadaan barang bukti narkotika Golongan I saat penangkapan membuat Ridho tidak serta-merta bisa langsung direhabilitasi. Apalagi penyidik menjeratnya menggunakan pasal 112 ayat (1) sub pasal 127 Jo pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Jika mengacu pada pasal 112 ayat 1 UU No 35 Tahun 2009 Ridho terancam dipidana dengan pidana penjara 4-12 tahun dan denda paling sedikit Rp 800 juta. Adapun pasal 127.

Dalam berbagai kasus termasuk yang menimpa artis atau selebriti, jerat pasal 112 ayat 1 kerap tak terhindarkan. Pasal ini menjerat orang-orang yang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman. Hukuman penjara tentu bisa menghancurkan karier Ridho yang saat ini sedang berada di puncak.

Meski begitu, Ridho masih memiliki kesempatan untuk memulihkan diri dari jerat narkoba. Apalagi jika nantinya dia dikategorikan sebagai korban penyalahgunaan. Menurut ketentuan Pasal 54 UU No. 35 Tahun 2009 pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Proses hukum tetap berjalan namun jika permintaan keluarga dipenuhi oleh penyidik maka Ridho bisa segera direhabilitasi untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap narkoba. Penyidik dalam memenuhi permintaan keluarga bisa mempertimbangkan ketentuan dalam pasal 4 ayat 2 Peraturan Kepala (Perka) BNN Nomor 1 Tahun 2014 tentang tata cara penanganan tersangka dan/atau terdakwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi.

Dalam Perka BNN itu disebutkan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika yang tanpa hak dan melawan hukum sebagai tersangka yang ditangkap atau tertangkap tangan dan terdapat barang bukti dengan jumlah tertentu serta terbukti positif memakai Narkotika sesuai hasil tes urine, darah, rambut dan/atau DNA, selama proses peradilannya berlangsung dalam jangka waktu tertentu dapat ditempatkan di lembaga rehabilitasi yang dikelola oleh pemerintah, setelah dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan Hasil Laboratorium dan Berita Acara Pemeriksaan oleh Penyidik Polri atau Penyidik BNN dan telah dilengkapi dengan rekomendasi hasil asesmen Tim Asesmen Terpadu.

Tim Asesmen Terpadu (TAT) memiliki peran yang besar dalam menentukan status hukum pelantun “Menunggumu” tersebut. TAT memiliki kewenangan untuk melakukan analisis peran seseorang yang tertangkap, menentukan kriteria tingkat keparahan penggunaan narkotika serta merekomendasi rencana rehabilitasi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika.

TAT terdiri atas dua tim yakni tim dokter yang meliputi dokter dan psikolog yang telah memiliki sertifikasi asesor dari Kementerian Kesehatan serta tim hukum yang terdiri dari unsur Polri, BNN, Kejaksaan dan Kemenkumham. Tim dokter bertugas melakukan asesmen dan analisis medis, psikososial serta merekomendasi rencana terapi dan rehabilitasi penyalah guna narkotika. Adapun tim hukum bertugas melakukan analisis dalam kaitan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika dan penyalahgunaan narkotika berkoordinasi dengan penyidik yang menangani perkara.

Nantinya setelah menerima hasil pemeriksaan darah dan rambut Ridho dari Laboratorium BNN, tim langsung bekerja. Menurut ketentuan dalam Perka BNN, Tim Asesmen ini memiliki waktu maksimal enam hari untuk mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi hasil asesmen kemudian diserahkan kepada Penyidik untuk dilaporkan secara tertulis kepada Pengadilan Negeri setempat. Rekomendasi ini nantinya sebagai pegangan penyidik untuk memutuskan apakah tersangka perlu direhabilitasi atau tidak.

Jumlah barang bukti sabu saat tertangkap akan menjadi salah satu pertimbangan TAT. Sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010 tentang Penempatan Pecandu Narkotika ke Dalam Lembaga Rehabilitasi disebutkan bahwa penerapan pemidanaan sebagaimana dimaksud dengan Pasal 103 UU no 35 Tahun 2009 tentang Narkotika hanya dapat dijatuhkan kepada terdakwa yang tertangkap tangan dengan barang bukti pemakaian satu hari yakni kelompok metamfetamin (sabu) seberat 1 gram. Adapun barang bukti narkotika golongan I kelompok metamfetamin hasil tangkap tangan dalam kasus Ridho hanya seberat 0,76 gram atau masih di bawah ambang batas pemakaian satu hari.

Di sisi lain, pengakuan Ridho yang mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi penyalah guna narkoba sejak dua tahun terakhir akan diasesmen secara lebih mendalam lagi. Dari hasil asesmen tim dokter akan menyimpulkan tingkat keparahan Ridho apakah masih dalam tahap coba pakai, teratur pakai ataukah pecandu berat.

Dari pengakuannya tersebut kemungkinan besar Ridho bukan lagi sebagai penyalahguna tahap coba pakai. Pecandu yang dikategorikan pecandu teratur pakai maupun pecandu berat tidak direkomendasikan untuk rawat jalan apalagi perawatan di rumah tahanan.

Faktor penentu lainnya adalah ada-tidaknya keterlibatan Ridho dalam jaringan narkoba. Jika dia terlibat secara aktif dalam jaringan yang diduga memasok narkoba untuk para artis yang sedang didalami pihak kepolisian maka peluangnya lolos dari TAT sangat berat. Namun jika dia dinyatakan clear dan tidak terlibat dalam jaringan maka itu akan menjadi data penguat bagi tim.

Andaikan gagal saat masih dalam proses penyidikan, Ridho masih berpeluang direhabilitasi meskipun divonis bersalah oleh pengadilan. Pasal 103 UU No. 35 Tahun 2009 menyebutkan bahwa hakim yang memeriksa perkara pecandu narkotika dapat memutus dan memerintahkan yang bersangkutan direhabilitasi jika terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotika. Apalagi jika pasal yang didakwakan kepadanya adalah pasal 127 ayat 1 maka rehabilitasi akan dijadikan sebagai hukuman pengganti.

Merujuk pada kasus Ridho Rhoma ini terlihat bahwa betapa pentingnya kesadaran bagi para pecandu untuk melaporkan diri sehingga bisa langsung direhabilitasi tanpa perlu menjalani proses hukum terlebih dahulu. Pengajuan rehabilitasi setelah tertangkap tangan walau memungkinkan namun membutuhkan proses yang cukup rumit. Meski bisa direhabilitasi, ancaman hukuman penjara tetap mengintai apalagi jika barang bukti di atas ambang batas pemakaian sehari.

Padahal efek adiksi seperti dialami Ridho yang sudah kecanduan selama dua tahun terakhir membutuhkan penanganan segera. Adiksi sesungguhnya sudah merupakan suatu hukuman yang sangat berat. Bahkan ada kasus adiksi yang terlambat ditangani berujung pada kematian.

Hal ini tentu juga perlu menjadi perhatian bagi kita semua betapa pentingnya peran keluarga dalam mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda. Jangan sampai ada kejadian keluarga justru jadi orang terakhir yang mengetahui anaknya adalah penyalahguna narkoba.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Harian Waspada Medan Sabtu 4 Februari 2017

Download E-papernya di sini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s