Narkoba (Tak) Seheboh Isu Penculikan Anak

Kolom Opini Harian Analisa

Akhir-akhir ini marak informasi berseliweran terutama di media sosial  tentang kasus penculikan anak di berbagai daerah. Informasi yang beredar, para penculik sering melakukan penyamaran dalam menjalankan aksinya sehingga membuat si calon korban maupun pihak sekolah terkecoh. Disebutkan juga bahwa para pelaku bisanya berpura-pura menjadi gila ketika kedoknya terbongkar.

Kehebohan tersebut diperkuat dengan terjadinya penangkapan pelaku penculikan anak yang dilakukan oleh masyarakat bermunculan di jejaring sosial terutama Facebook. Dalam info yang dibagikan ramai-ramai para netizen itu disebutkan pelaku yang umumnya perempuan ataupun laki-laki menyamar menjadi perempuan tampak bengong menjadi tontonan saat tertangkap.

Kekhawatiran orang tua makin menjadi-jadi ketika diungkapkan bahwa anak-anak yang diculik banyak yang tak kembali. Menurut informasi yang beredar anak-anak korban penculikan ini akan dijual organ tubuhnya dengan harga yang sangat mahal.

Berita mengenai penculikan anak dan organnya dijual ini menjadi topik yang sangat viral. Disertai foto-foto kondisi korban yang sangat mengerikan menimbulkan interpretasi yang beragam bagi para orang tua.

Imbasnya, di berbagai tempat terjadi penganiayaan orang-orang yang disangka sebagai penculik. Padahal yang diduga sebagai penculik anak itu adalah benar-benar orang gila. Kejadian seperti itu bukan lagi isu dan benar-benar terjadi di beberapa daerah. Informasi yang belum terverifikasi ini telah membuat para orang tua pontang-panting.

Di sisi lain, bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di kalangan anak-anak yang jelas-jelas nyata di depan mata tapi tak seheboh kasus penculikan. Padahal korban yang berjatuhan sudah banyak. Bahkan karena maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap, negara kita sekarang dalam kondisi darurat narkoba.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Puslitkes Universitas Indonesia (UI) Tahun 2015 tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui bahwa angka prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai 2,20% atau sekitar 4.098.029 orang dari total populasi penduduk (berusia 10 – 59 tahun). Sebanyak 35-50 orang meninggal sia-sia setiap hari akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba baik secara langsung maupun tidak.

Penculikan anak ini memang sangat mengerikan, tetapi penyalahgunaan narkoba tak kalah menakutkan. Belakangan ini para pengedar narkoba menggunakan berbagai cara untuk menjaring pasar dari kalangan belia.

Penyalahgunaan narkoba di kalangan anak jauh lebih mengkhawatirkan dari yang kita duga. Penyesatan anak melalui narkoba sebenarnya merupakan sebuah upaya sistematis yang dilakukan oleh para penjahat narkoba. Tujuannya jelas, agar si anak bisa menjadi konsumen loyal dalam waktu yang lama. Syukur-syukur si anak bisa diperalat menjadi kurir maupun pengedar di kemudian hari.

Teman Sebaya

Sama seperti kasus penculikan yang menggunakan cara-cara terorganisir, para bandar dan mafia narkoba juga tak kalah cerdik. Mereka mengelabui anak-anak dengan berbagai cara. Para penjahat ini tak lagi tampak sebagai sosok yang menyeramkan sehingga membuat anak-anak menjadi takut. Mereka kadang menggunakan anak-anak juga sebagai umpan untuk menjerat anak lainnya.

Mereka paham benar bahwa anak-anak sangat tergantung pada teman sebayanya (peer group). Dalam kasus penculikan anak-anak yang berbaur dengan teman sepermainannya relatif lebih aman tapi dalam penyalahgunaan narkoba tak ada jaminan. Jika penculik umumnya mengincar anak-anak yang sendirian, bandar narkoba justru bisa mengincar anak-anak dalam satu geng/kumpulan sekaligus.

Para bandar menanamkan doktrin kepada anak-anak yang dianggap memiliki pengaruh kepada teman-temannya untuk dijadikan sebagai kurir maupun pengedar. Si anak inilah yang kemudian menyebarkan pengaruh negatif kepada kawan-kawannya yang lain. Berdalih sebagai bagian dari pergaulan, mulailah dia mencekoki teman-temannya yang lain.

Modus lain yang tak kalah mengerikannya adalah peredaran narkoba yang telah dicampur ke dalam makanan. Umumnya jajanan terutama permen tersebut diedarkan di sekitar sekolah. Dari tampilan kemasan maupun isinya tak ada bedanya permen narkoba dengan permen asli. Hanya saja setelah mengonsumsinya akan terjadi perubahan prilaku pemakainya. Jika si anak rutin mengonsumsinya maka ia akan kecanduan.

Baik guru di sekolah maupun orang tua di rumah kerap tak menyadari hal ini. Apalagi gejala-gejala awal anak-anak korban penyalahgunaan narkoba tak terlalu nampak baik secara fisik maupun psikis. Tak ada perbedaan secara kasat mata antara anak normal dengan korban penyalahgunaan narkoba yang masih dalam fase coba pakai.

Seringkali orang tua justru menjadi orang terakhir yang mengetahui anaknya telah menjadi pecandu narkoba. Si anak ketahuan menjadi korban penyalahgunaan justru ketika kondisinya sudah memprihatinkan yakni menjadi pecandu berat.

Berbeda dengan kasus penculikan, dalam penyalahgunaan narkoba si anak secara fisik memang tidak hilang. Hanya saja dari sisi mental, prilaku, kesehatan dan tumbuh kembang anak menjadi sangat terganggu. Jika orang tua tidak menyadari hal itu maka masa depannya bisa hancur bahkan bisa berujung pada kematian.

Selektif

Jika isu penculikan yang belum pasti kebenarannya membuat kita gempar, mengapa penyalahgunaan narkoba di kalangan anak sepertinya biasa-biasa saja? Narkoba itu adalah mesin pembunuh massal dan jelas itu bukan merupakan hoax. Sudah sewajarnya jika upaya pencegahan sejak dini diajarkan kepada anak-anak.

Salah satunya adalah dengan selektif dalam memilih jajanan di sekolah. Jajan sembarangan akan membuat anak-anak rentan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi narkoba. Bila perlu, batasi uang jajan jangan sampai berlebih untuk meminimalkan potensi tersebut. Bila perlu anak-anak dibekali ransum dari rumah. Selain lebih hemat, dipastikan menunya lebih bergizi.

Anak-anak juga perlu diajarkan tentang pergaulan yang sehat dan bertanggung jawab sejak dini. Seperti sudah disebutkan di atas faktor tekanan peer group sangat mempengaruhi sangat mempengaruhi keseharian si anak. Jika dia bergaul dengan pecandu narkoba, bisa saja kelak si anak juga tertular.

Tidak kalah penting, aktivitas keseharian anak perlu dipantau secara intensif. Saat si anak berada di sekolah bukan berarti tanggung-jawab sepenuhnya ada di tangan para guru. Komunikasi merupakan salah satu kunci dalam mengontrol aktivitas mereka.

Ingat, narkoba adalah ancaman nyata bagi anak-anak kita dan itu bukan hoax.

 

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Kolom Opini Harian Analisa, Edisi Jumat, 24 Maret 2017

Download versi epaper/pdf di sini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s