Bayi Terpapar Narkoba, Rapuhnya Peran Keluarga

Kolom Opini Harian Waspada

Peristiwa memilukan terjadi di Kalimantan Tengah baru-baru ini. Seorang bayi perempuan yang baru berusia lima bulan dinyatakan potitif terdampak narkoba jenis sabu. Bayi malang tersebut kecanduan narkoba karena rutin mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) ibunya yang merupakan penyalahguna sabu.

Ibu si bayi diketahui adalah istri seorang pengedar yang ditangkap di sebuah kios miliknya bersama seorang rekannya di Jalan Tjilik Riwut, Palangka Raya. Barang bukti yang disita berupa 8 paket sabu dengan berat kotor 5,5 gram, uang tunai sejumlah Rp. 1 juta, 1 timbangan, 1 bungkus plastik klip, 1 sendok dari sedotan, 2 telepon genggam, 2 bong dan 1 mancis.

Ayah balita tersebut diketahui dengan sengaja memberikan sabu kepada istrinya yang berusia 22 tahun. Akibatnya si istri menjadi kecanduan berat. Mereka terbiasa mengonsumsi sabu secara bersama-sama. Parahnya, saat menggelar pesta narkoba, si bayi juga biasa diletakkan di dekat mereka.

Pada saat penggerebekan, petugas BNN awalnya hanya berniat memeriksa urine pasangan suami-istri tersebut. Namun, saat pemeriksaan tengah berlangsung si bayi ternyata sangat rewel, gelisah, dan sering menangis tidak jelas. Suhu tubuhnya pun cukup tinggi.

Bayi pada umumnya secara naluriah memang akan menangis ketika lapar atau haus. Namun sikap gelisah dan rewelnya yang tidak wajar itu karena efek adiksi yang telah menimpanya dalam usia masih sangat belia.

Petugas pun menjadi curiga dan lantas berinisiatif  mengecek urine balita itu. Ternyata hasil tes urine menunjukkan si bayi juga positif terpapar narkotika jenis sabu. Temuan yang membuat miris ini bisa jadi merupakan yang pertama kali terungkap.

Akibat kedua orang tuanya telah diperbudak oleh narkoba, si anak ikut terkena dampak buruknya. Karena sang ibu memakai sabu maka zat yang telah masuk dalam tubuhnya kemudian juga berdampak pada sang anak yang ditularkan melalui ASI yang disusukan.

Reaksi sabu pada anak yang tertular melalui ASI lebih cepat dan lebih mengerikan dibanding saat orang dewasa yang menghisap langsung. Metamfetamin, istilah lain sabu, memang dapat dikeluarkan melalui air susu ibu ke bayi dalam jumlah besar. Tidak mengherankan jika American College of Obstetric & Gynecology melarang penggunaan metamfetamin pada pecandu yang menyusui.

Jarak antara menyusui dengan dosis terakhir metamfetamin harus setidaknya 48 jam. Konsentrasi narkotika jenis ini mencapai 2,5 x lebih banyak saat dikeluarkan di air susu daripada jumlah di dalam cairan tubuh ibu. Bahkan pernah juga terjadi kasus kematian bayi setelah menyusu dari ibu pengguna metamfetamin.

Hukuman Berat

Sang suami sudah sangat wajar diberikan sanksi hukum yang berat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Sudah tepat bila penyidik mengganjarnya dengan pasal 114 ayat 1 jo pasal 112 ayat 1 jo pasal 132 ayat 1. Ancaman hukuman pidana yang bisa menjeratnya sesuai pasal tersebut adalah penjara seumur hidup, atau penjara 5-20 tahun dan pidana denda Rp 1 miliar –Rp 10 miliar.

Hukumannya bahkan seharusnya bisa lebih berat jika disangkakan juga dengan menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Undang-Undang  Nomor 23 tentang Perlindungan Anak. Tindakan sang suami yang mencekoki istrinya narkoba merupakan tindakan kekerasan fisik dan psikis. Akibat tindakan biadapnya itu si anak juga menjadi kecanduan narkoba meski usianya masih sangat muda.

Lantas bagaimana dengan sang istri? Status hukumnya perlu mendapat kejelasan dari Tim Asesmen Terpadu (TAT) yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, BNN, dan medis. Dari rekomendasi TAT akan bisa diketahui apakah si istri terlibat jaringan ataukah sebatas korban penyalahgunaan. Jika terlibat dalam jaringan maka yang bersangkutan juga harus diproses hukum. Namun jika TAT menyimpulkan si ibu sebagai korban penyalahgunaan maka dia harus direhabilitasi baik secara medis maupun sosial.

Persoalannya adalah ia memiliki seorang bayi yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Rehabilitasi setidaknya membutuhkan waktu paling singkat selama tiga bulan. Di sisi lain, si bayi juga tak layak terus-menerus disusui dengan ASI yang terkontaminasi narkoba. Membiarkan si bayi tetap menyusu kepada ibu kandungnya sama saja dengan tetap mencekokinya dengan zat haram.

Keprihatian kita justru membuncah kepada bayi mungil yang tak berdosa tersebut. Dia tidak tahu apa-apa mengenai sepak terjang kedua orang tuanya dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis ketika efek adiksi narkoba sedang menyiksanya.

Bahkan bukan tidak mungkin bayi juga terkena efek lepas obat (sakaw) saat dihentikan pemberian ASI-nya. Beberapa kemungkinan penyakit juga bisa memilki dampak langsung adalah susah tidur, tremor, dan muntah-muntah.

Peneliti dari Inggris menyebutkan selain berpotensi cacat, bayi yang terpapar narkoba sejak masih dalam kandungan juga memiliki risiko tinggi mengalami gangguan psikotik (kelainan jiwa). Bayi mungil tersebut sangat memerlukan penanganan khusus.

Pelajaran Penting

Dari kejadian ini beberapa pelajaran penting bisa ditarik. Pertama, betapa rapuhnya rumah tangga yang telah dibumbui narkoba. Ibaratnya rumah tangga seperti itu sudah di ambang kehancuran. Bila si suami jadi pengedar atau bandar penghasilannya memang akan menggiurkan tapi hukuman berat mengintai sewaktu-waktu. Namun begitu si suami masuk penjara maka istri dan anaknya akan mengalami kesulitan ekonomi. Dalam beberapa kasus, si istri juga terlibat dalam jaringan suami sehingga ikut diamankan oleh petugas.

Kedua, Kasih sayang sudah tak ada ketika narkoba sudah hadir dalam keluarga. Bagi penyalahguna, hal yang paling dicari dalam hidup ini adalah memenuhi kepuasan semu dahaga adiksi. Dalam mencari kenikmatan semu itu, segala cara digunakan dan semua yang menghalangi akan dihancurkan termasuk keluarga sendiri.

Maraknya kekerasan dalam rumah tangga akhir-akhir ini  salah satunya dipicu oleh penyalahgunaan narkoba. Prilaku pecandu biasanya menjadi tidak stabil, emosional, kasar dan dan biasanya dilampiaskan ke orang-orang terdekatnya. Tak ada lagi kasih sayang, bahkan terkadang seorang suami tega mencekoki istrinya dengan narkoba. Jika si istri tidak mau maka siap-siaplah menerima kekerasa baik secara fisik dan psikis. Tidak mengherankan jika keluarga yang sudah terkontaminasi dengan narkoba banyak yang berujung pada perceraian.

Ketiga, tumbuh kembang anak terganggu apabila orang tua terlibat penyalahgunaan narkoba. Perlu dipahami bahwa kepribadian dan masa depan anak kelak sangat dipengaruhi pola asuh orang tuanya. Jika orang tuanya adalah pecandu maka si anak akan tumbuh dalam rumah tangga berantakan dan kurang kasih sayang.

Seorang anak bahkan bisa terpapar narkoba sejak masih dalam kandungan jika ibunya merupakan seorang pecandu. Racun-racun dari sang tersebut juga akan ikut mengalir melalui tali pusar menuju plasenta. Akibatnya perkembangan organ-organ vital janin akan terganggu bahkan bisa menimbulkan cacat tubuh kelak.

Ketika sudah lahir dan tumbuh menjadi seorang anak sejumlah masalah akan terus membelit. Dia menjadi pecandu dalam usia yang masih belia. Keberadaannya juga akan berdampak pada lingkungan sekitarnya terutama anak-anak lain yang menjadi teman sepermainannya.

Berkaca dari kasus di Kalimantan Tengah ini tampak jelas betapa dahsyat dampak buruk narkoba terhadap kelangsungan dan keharmonisan sebuah keluarga. Karena itu upaya pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin di lingkungan masing-masing. Narkoba awalnya merupakan masalah individu tapi jika dibiarkan akan meresahkan masyarakat bahkan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

| Esdras Idi Alfero Ginting S.Sos | @esdrasidialfero | esdras.idialfero@gmail.com |

Dimuat di Harian Waspada Medan Sabtu 4 Februari 2017

Download E-papernya di sini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s